Museum Ullen Sentalu – Museum Ullen Sentalu adalah sebuah tempat wisata budaya yang terletak di Yogyakarta, Indonesia. Museum ini terkenal karena koleksi seni dan budaya Jawa yang kaya, serta bangunannya yang terletak di lereng Gunung Merapi, menjadikannya sebuah destinasi yang unik dan menarik untuk dikunjungi. Di dalamnya, pengunjung dapat menjelajahi kekayaan sejarah dan budaya Jawa melalui pameran artefak, lukisan, dan fotografi.

Tempat ini mengoleksi berbagai warisan budaya Jawa seperti batik, lukisan, dan koleksi syair. Namun, apakah Anda tahu bahwa museum ini di miliki oleh individu? Jika belum, atau jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang sejarah museum ini.

Lokasi Museum Ullen Sentalu

Museum Ullen Sentalu berlokasi di Jl. Boyong No.KM 25, Kaliurang, Hargobinangun, Pakem, Sleman. Dekat dengan Lava Tour Merapi Kaliurang, hanya 2 km atau sekitar 6 menit perjalanan.

Harga Tiket

Tiket masuk ke Museum Ullen Sentalu di bagi menjadi dua jenis tur, yaitu Adiluhung Mataram dan Vorstenlanden. Untuk tur Adiluhung Mataram, pengunjung akan dikenai biaya sebesar Rp 50.000 per orang, sedangkan untuk tur Vorstenlanden biayanya adalah Rp 100.000 per orang. Pengunjung yang datang secara perorangan dengan jumlah kurang dari 15 orang dapat membeli tiket langsung di lokasi. Namun, untuk rombongan lebih dari 15 orang di sarankan untuk melakukan reservasi sebelumnya.

Museum inibuka setiap Selasa hingga Minggu dari pukul 08.30 hingga 16.00 WIB, dengan waktu tur terakhir dimulai pukul 15.15 WIB. Museum ini tutup pada hari Senin untuk umum.

Baca juga:  Malioboro: Keunikan dan Pesona Kota Yogyakarta

Sejarah Museum Ullen Sental

Pembangunan Museum Ullen Sentalu

Museum Ullen Sentalu adalah salah satu pengecualian di mana tidak di miliki oleh pemerintah daerah, melainkan dimiliki secara pribadi oleh Keluarga Haryono. Keluarga ini memiliki latar belakang peranakan dengan akar budaya Jawa yang kuat, tinggal di Gang Sayidan dekat Keraton Jogja bersama berbagai strata sosial seperti priyayi, ningrat, dan janda-janda Belanda. Terinspirasi oleh kehidupan multikultural ini, Keluarga Haryono mencari jati diri dengan mendirikan museum seni dan budaya Jawa Klasik.

Proyek pembangunan Museum ini tidak hanya di dukung oleh keluarga Haryono tetapi juga oleh kerabat dari pewaris dinasti Mataram. Pada tahun 1994, mereka bersama-sama mendirikan Yayasan Ulating Blencong untuk mendanai museum ini. Museum ini dibangun di atas tanah milik keluarga, dengan tujuan untuk mempersembahkan kenangan masa kecil yang indah di Kaliurang. Akhirnya, Museum Ullen Sentalu resmi dibuka pada 1 Maret 1997 dan diresmikan oleh Gubernur DIY saat itu, KGPAA Paku Alam VIII.

Baca juga : 12 Daftar Tempat Wisata di Sleman 

Arti Nama Ullen Sentalu

Museum Ullen Sentalu memiliki nama yang unik, yang sebenarnya adalah sebuah akronim atau kependekan dari falsafah Jawa yang dalam bahasa Jawa berbunyi “ulateng blencong sejatine tataraning lumaku”. Falsafah ini mengandung makna tentang penerangan langkah manusia. Di ambil dari sumber cahaya blencong yang digunakan dalam pertunjukan wayang kulit tradisional.

Konsep utama dari Museum ini adalah mengangkat peran perempuan sebagai jendela kehidupan. Di museum ini, karya-karya seni banyak menggambarkan tokoh-tokoh perempuan Jawa seperti permaisuri dan putri kerajaan Dinasti Mataram. Meskipun pada masa lalu, perempuan sering kali terbatas dalam ruang lingkup keraton, mereka tetap merupakan tokoh yang kuat dan cerdas di balik layar, mempengaruhi tatanan politik dan budaya Jawa. Museum ini memandang perempuan sebagai jendela yang mengungkapkan panjangnya sejarah, seni, dan budaya Jawa.

Baca juga:  Pantai Indrayanti: Membebaskan Jiwa di Keindahan

Desain Museum Ullen Sentalu

Tidak hanya karena koleksi seninya yang mengagumkan. Museum ini juga menarik perhatian pengunjung dengan arsitektur bangunannya yang estetik dan misterius. Terletak di lahan seluas 1,2 hektar, kawasan ini di kenal sebagai nDalem Kaswargen atau Rumah Surga. Yang mana di rancang dengan desain yang sangat unik dan lengkap dengan taman, kolam, labirin, kelokan, serta fasilitas restoran dan art shop.

Arsitekturnya di kembangkan oleh KP. DR. Samuel Wedyadiningrat, DSB. KONK, yang di kenal dengan konsep ‘In the Field Architecture Concept’. Beliau tidak pernah menggunakan cetak biru dalam prosesnya, melainkan setiap bangunan di rancang dan di bangun langsung di lapangan, sesuai dengan karakteristik unik dari letak tanah dan alamnya.

Pembangunan Museum Ullen Sentalu mengutamakan harmonisasi dengan alam sekitar, menggunakan material batu alami, dan menampilkan nuansa klasik Jawa. Contohnya dapat di lihat dari bangunan seperti Guwo Selo Giri, sebuah lorong bawah tanah, serta Kampung Kambang yang merupakan kompleks ruang di atas kolam, dan Gapuro Naga Pertolo, sebuah undakan panjang yang menembus alam bebas di bawah tanah.

Nah itulah Museum Ullen Sentalu yang memiliki sejarah unik dengan arsitektur dan koleksi seni budaya Jawa klasik.