Desa Penglipuran – Nama Desa Penglipuran mungkin sudah sering Anda dengar ketika membicarakan Bali. Desa ini dikenal sebagai salah satu desa terbersih di dunia, sehingga sering menjadi tujuan wisata bagi pelancong lokal maupun mancanegara.

Sebelum mengunjungi Desa Wisata Penglipuran, sebaiknya kita mempelajari sedikit tentang desa ini, serta lokasinya dan aktivitas menarik yang ditawarkannya.

Lokasi dan Harga Tiket Desa Penglipuran

Desa Wisata Penglipuran terletak di Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Desa ini berjarak sekitar 60 kilometer dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dan dapat dicapai dalam waktu sekitar 1 jam 30 menit dengan mobil.

Untuk harga tiket masuk Desa Penglipuran Bali sangat terjangkau, berkisar antara Rp15.000,00 hingga Rp25.000,00 untuk wisatawan lokal. Biaya tiket berbeda antara wisatawan asing dan lokal, untuk lebih jelasnya, lihat berikut:

Retribusi Tarif

  • Wisatawan Lokal Dewasa Rp25.000,00
  • Wisatawan Lokal Anak-anak Rp15.000,00
  • Wisatawan Mancanegara Dewasa Rp30.000,00
  • Wisatawan Mancanegara Anak-anak Rp25.000,00
  • Penginapan di Desa Penglipuran Mulai dari Rp375.000,00 per malam
  • Parkir Motor Rp2.000,00
  • Parkir Mobil Rp5.000,00
  • Parkir Bus Rp10.000,00

Jam Operasional dan Waktu Terbaik Untuk Berkunjung

Jam operasional Desa Penglipuran bagi wisatawan adalah dari pukul 08.00 WITA hingga 17.00 WITA setiap harinya. Namun, jika Anda memilih untuk menginap di rumah-rumah warga, Anda dapat menikmati suasana malam yang tenang, asri, dan nyaman, berbeda dari kunjungan di siang hari.

Baca juga:  Pura Tanah Lot: Keindahan Alam di Bali

Waktu terbaik untuk mengunjungi Desa Penglipuran adalah pada bulan Desember, ketika banyak acara budaya berlangsung, termasuk Penglipuran Village Festival yang menampilkan parade budaya khas Bali dan Penglipuran. Anda juga dapat menikmati Tari Baris Sakral yang jarang terlihat. Mengunjungi desa saat pelaksanaan upacara-upacara adat juga bisa menjadi momen yang pas untuk berkunjung.

Hal-Hal Menarik di Desa Penglipuran Bali

Keunikan Bangunan Desa Penglipuran

Hal pertama yang paling menarik dari Desa Penglipuran terletak pada arsitektur bangunannya. Desa ini terdiri dari rumah-rumah penduduk yang sederhana dan mencerminkan adat istiadat setempat.

Desa adat ini ramah lingkungan, dengan bangunan yang masih menggunakan material alami seperti bebatuan, daun pisang, dan pintu berukir yang memperindah rumah. Berbagai tanaman dan pepohonan tumbuh subur, menciptakan suasana perkampungan yang asri.

Terkenal Dengan Desa Terbersih

Tidak mengherankan bahwa Desa ini menjadi salah satu objek wisata tersembunyi di Bali. Menurut laman Wonderful Indonesia, desa ini diakui sebagai desa adat terbersih di dunia berkat kerapian dan kebersihannya yang terjaga dengan baik.

Desa adat Penglipuran telah menerima beberapa penghargaan bergengsi seperti ISTA (Indonesia Sustainable Tourism Award) pada tahun 2017 dan masuk dalam daftar Sustainable Destinations Top 100 versi Green Destinations Foundation. Salah satu faktor utama kebersihan desa ini adalah kebijakan untuk tidak menggunakan kendaraan bermotor di dalamnya, yang telah membantu mempertahankan keasrian dan mengurangi polusi.

Masyarakat lokal di desa ini memiliki kesadaran yang tinggi akan pentingnya menjaga lingkungan. Mereka secara kolektif menjaga kebersihan desa dengan tidak meninggalkan sampah berserakan dan aktif berpartisipasi dalam program kebersihan.

Tradisi dan Adat Istiadat yang Masih Kental

Masyarakat Desa ini sangat menjunjung tinggi tradisi nenek moyang mereka. Adat istiadat, nilai gotong royong, kekeluargaan, dan kearifan lokal dijalankan berdasarkan konsep Tri Hita Karana.

Baca juga:  Kelingking Beach: Pantai Eksotis di Nusa Penida

Menurut laman Kementerian Agama Republik Indonesia, Tri Hita Karana berasal dari kata “tri” yang berarti tiga, “hita” yang berarti kesejahteraan atau keseimbangan, dan “karana” yang berarti penyebab. Ketiga aspek tersebut adalah Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan. Berikut penjelasannya:

  1. Parahyangan: Mengacu pada hal-hal yang berkaitan dengan ketuhanan dan keagamaan, terutama dalam memuja Ida Sanghyang Widhi Wasa. Banyak yang mengartikan Parahyangan sebagai tempat suci (Pura) untuk memuja Tuhan.
  2. Pawongan: Berkaitan dengan hubungan antarmanusia dalam satu komunitas. Dalam arti sempit, Pawongan merujuk pada kelompok masyarakat yang tinggal di satu wilayah.
  3. Palemahan: Mengacu pada lingkungan tempat tinggal. Dalam hal ini, manusia harus selalu memperhatikan dan menjaga kondisi lingkungannya.

Kegiatan Ritual Keagamaan Rutin Diadakan

Seperti desa adat lainnya, Desa ini memiliki ritual keagamaan yang di adakan secara rutin setiap tahunnya. Salah satu upacara besar yang dilaksanakan adalah Ngusaba, yang bertujuan untuk menyambut Hari Raya Nyepi. Ritual ini berlangsung setiap 15 hari sekali dan di hadiri oleh masyarakat yang beribadah di Pura Penataran, sebuah tempat suci yang terletak di dalam desa adat.

Ngusaba dan ritual keagamaan lainnya di Desa ini diadakan sebagai penghormatan terhadap para tetua adat dan warisan yang ditinggalkan oleh leluhur mereka. Kegiatan ini tidak hanya menguatkan identitas desa sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadikannya sebagai pusat kehidupan budaya yang bersemangat.

Belajar Kerajinan dari Bambu

Hutan bambu yang melingkupi Desa Penglipuran tidak hanya menambah keasrian desa, tetapi juga menjadi sumber bahan untuk kerajinan lokal. Pengunjung yang datang ke Desa Penglipuran dapat belajar membuat berbagai macam kerajinan dari bambu. Masyarakat setempat akan memandu wisatawan dalam proses pembuatan anyaman bambu, mulai dari teknik dasar hingga tahap pewarnaan, sehingga pengalaman ini menjadi lebih mendalam dan berkesan.

Baca juga:  Water Blow Nusa Dua: Deburan Ombak Menakjubkan di Bali

Itulah beberapa hal-hal menarik dari Desa Penglipuran. Sebenarnya masih banyak hal menarik lainnya, yuk coba berkunjung ke Desa Penglipura.